Metamorfosis dalam Semalam

Butuh Password

Jika belum memiliki akses silakan gabung akses literasi.blog VIP terlebih dahulu

Lima Puluh Cara Berhenti Jadi Figuran dan Mulai Jadi Kamu.

Aku ngebut naik lereng sebuah gunung pake motor yang bunyinya kayak mesin pemotong rumput milik Iblis, cewekku di belakang berbaju tipis dan pelukan segitu eratnya sampe aku susah napas, sementara gerombolan serangga Big Island prasejarah lagi pesta gangbang di kaca helmku. Aku nggak bisa liat apa-apa. Aku angkat visor dan angin nampar mukaku kayak mantan istri yang baru denger aku mau stop bayar tunjangan anak, aku mulai mikir ini cara Tuhan exfoliate dosa-dosa yang belum kuakui, dan kalau ada kambing loncat dari semak-semak, kamu bakal liat dua bule di berita dideskripsiin sebagai “roadkill organik.”

Senja. Langit lagi nyala neon apokaliptik dan laut keliatan kayak bola mata iblis. Aku nyengir kayak orang gila yang baru nemuin jalan keluar dari simulasi.

Foto langsung Malaikat Pelindungku lagi lembur dan pertimbangkan ganti karir.

“Sayang, aku butuh bantuanmu buat bucket listku,” aku bilang. “Impianku naik gunung ini pake motor sama kamu topless di belakang.” “Aku mau kamu nempel sama aku, topless, teriak-teriak, sambil kita kejar matahari terbenam ke puncak sebelum warga lokal nuntut.” Dia bilang aku gila, yang dalam bahasa romantis artinya “Aku cuma mau ini jadi bahan cerita buat terapisku selanjutnya.”

Kita naik makin tinggi. Setiap putaran gas adalah jari tengah buat akal sehat, dan setiap detik adalah taruhan melawan kambing gunung. Mudah-mudahan kambing-kambing itu lagi berdiri di atas batu sambil ngerasa superior.

Aku tau cewekku percaya sama aku. Matanya gede banget. Aku cium jidatnya sebelum kita naik dan pasangin helm di kepalanya kayak aku lagi nobatkan dia jadi ksatria pecandu adrenalin. “Kalau Allah di pihak kita,” aku bilang, “nggak ada yang bisa berhentikan kita kecuali kambing bunuh diri dan gabungan IQ tim keamanan Batur, yang jam segini nilainya antara sekantong batu sama soda gembira anget.”

Aku masuk tikungan pertama mulus langsung ke jalur lurus, turunin gigi, puntir gas dan biarin motor itu meraung. Aku nggak yakin siapa yang teriak lebih kenceng, motorku atau malaikat toket keluar di belakangku. Waktu kita sampe checkpoint, nggak ada siapapun, nggak ada pengecekan ban, nggak ada orang bawa clipboard, nggak ada yang bilang tread depthku kurang buat kebodohan nekat ini. Aku suruh cewekku turun dan ninja lewatin pagar, terus aku off-road motor kayak lagi audisi Fast & Furious: Edisi Lombok. Dia naik lagi dan dia kedinginan sampe putingnya keliatan. Aku lempar jaketku kayak gentleman sejati, jiwa ksatria belum mati, dia cuma pake kulit.

Kita melesat ke puncak. Udaranya tipis, pemandangannya brutal, dan satu-satunya rencanaku adalah racunin jantungku pake nikotin sebagai perayaan dan mungkin kasih Allah alasan buat akhirnya kirim petir ke arahku. Aku buka Zippo emasku (yang bikin aku ngerasa kayak Hemingway punya catatan kriminal), nyalain Camel, dan keluarin dua kaleng Red Bull lokal, makanan para juara dan janda-duda.

Dan di atas sana, dengan dunia jatuh menjauh, kutipan Kafka nabrak aku kayak truk:
“Aku nggak bisa bikin kamu ngerti. Aku nggak bisa bikin siapapun ngerti apa yang terjadi di dalam diriku. Aku bahkan nggak bisa jelasin ke diriku sendiri.” — Metamorfosis

Kamu mau tau kapan hidupku berubah? Waktu aku mutusin aku mau bengkokin realitas di stang motorku. Di situ. Di suatu tempat antara pusing nikotin, cewekku ketawa karena aku gila, dan punchline kosmik dari sadar bahwa realitas cuma tantangan. Semua pikiran ini banjir masuk ke kepalaku waktu aku minum Red Bull itu dan ngisep Camel. Dan sekarang aku di sini, sehari kemudian, ngeliatin laut, jantung berusaha kabur dari dada, pembuluh darah penuh kopi yang cukup kuat buat bangunin tulang Raja Monyet gundul, nulis semua ini buat kamu.

Hidup nggak akan hidup sendiri, dan kalau kamu nggak ngebut naik gunung, kamu cuma buang-buang waktu.

Kemarin, kamu cuma figuran di filmmu sendiri. Kantung daging dengan cameo kolestrol dan kecanduan reels, tipe cowok yang berdiri di jendela pake celana dalam pudar ada noda tai dan heran kenapa kehidupan nggak pernah dateng, bius dia, dan seret dia ke mobil penuh petualangan nyata. Kamu pake kesedihan kayak jas bekas, sebut itu “gaya personal,” dan bilang ke semua orang kamu “lagi nabung” sementara kamu hemoragi kemauan hidupmu ke barang-barang yang bahkan Goodwill nggak mau terima.

Kamu habiskan malam doomscrolling highlight reel media sosial, jempol kram, muka melempem, pura-pura kamu hidup padahal kamu cuma ngitung waktu di peti mati terbuka paling lambat sedunia. Kamu liat cowok-cowok yang surfing, riding, ciuman, minum, hidup, dan meyakinkan dirimu sendiri pasti mereka punya gen atau narkoba yang kamu nggak dapet waktu Tuhan bagi-bagi kartu liar.

Kamu itu cowok yang nontonin cowok lain makan hidup mentah-mentah dan bilang, “Suatu hari…” yang kodenya “Nggak pernah, tapi bikin aku ngerasa nggak kayak eunuch.” Kamu buka baju di kamar mandi, liat perut menggantung kayak muka anjing tua, dan keluarin tawa itu, kamu tau yang mana, ketat, canggung, tawa kecil putus asa yang cuma jiwamu diam-diam mati di keramik. Kamu bilang ke diri sendiri kamu “baik-baik aja.” Kamu bohong dan bilang kamu suka “kedamaian.” Kamu sebut kebosananmu “kepuasan” dan harap nggak ada yang bakal panggil bluffmu.

Kamu nggak hidup, bos. Kamu bocor. Kamu itu setara manusia sama plester bekas di trotoar, hampir nggak nempel sama eksistensi, berharap nggak ada yang nginjek kamu dalam perjalanan mereka ke sesuatu yang lebih baik.

Terus, tadi malam, aku tau apa yang terjadi. Di suatu tempat antara doomscroll ketujuhmu, kantong kosong self-loathing penuh sodium, dan cahaya biru menghantui yang bikin kamu keliatan kayak tahanan penjara, sesuatu pecah. Mungkin iri. Mungkin marah. Mungkin kamu cuma capek kencing di mimpimu sendiri dan nyium amoniaknya setiap pagi. Nggak penting. Karena kamu akhirnya denger satu-satunya suara yang pernah berharga: “Persetan. Aku mau semuanya. Aku mau darah, bahaya, seks, jenis resiko yang bikin iblis duduk tegak di kursi malas mereka dan mulai nyatet. Aku mau gigit buah terlarang dan nggak cuma jilat stickernya.”

Jadi kamu nggak tidur. Bagus. Tidur itu buat yang jinak, buat cowok-cowok yang hidup dalam ketakutan sama alarm dan Senin dan kecurigaan yang tumbuh bahwa hidup mereka adalah prank yang elaborate. Kamu bikin rencana, atau lebih tepatnya, kamu bikin ancaman ke mediokritas. Kamu bayangin dirimu pencet “book” di penerbangan bodoh yang dulu dirimu yang lama bakal riset sampe mati. Kamu liat tanganmu sendiri menyalakan malam di motor, tanpa helm, cuma angin tanpa hukum murni dan zero asuransi. Kamu liat dirimu ciuman sama cewek yang baru kamu kenal, ngerasain adrenalin di mulutnya, ketawa karena kamu bahkan nggak yakin kamu tau nama belakangnya tapi pemberontakannya menular. Kamu liat dirimu surfing waktu matahari terbit, baju terbuka, botol di tangan, tantangin iblis-iblismu buat ngikutin dan mereka nggak bisa. Kamu liat dirimu hidup begitu keras sampe alam semesta harus pake kacamata hitam cuma buat liat kamu.

Dan untuk pertama kalinya, dunia ngerasa gugup. Bagus. Itu awalnya.

Dan pagi ini, selamat. Akhirnya! Untuk pertama kalinya sejak entah kapan, kamu lakuin satu-satunya hal yang bener-bener penting di planet RSJ ini:

Kamu. Bertindak.

Mungkin kamu mandi, cukuran, dan pake celana yang nggak keliatan kayak habis dipake buat ngepel TKP. Mungkin kamu akhirnya klik “Book” di penerbangan yang dulu bikin cholesterol kabur dari jantungmu. Mungkin kamu masuk gym dengan tatapan setengah gila, melototin orang di meja kayak kamu mau ngerampok tempat itu atau lancarkan kudeta. Mungkin, cuma mungkin, kamu liat dirimu di cermin dan nggak flinch, nggak minta maaf, nggak coba menyusut balik ke cangkangmu kayak keong dengan social anxiety. Kamu cuma nyengir dan kasih tau bumi kamu datang buat darah dan cerita.

Kamu mulai gerak beda, tulang punggung lurus, mata terang, “persetan” permanen ke gravitasi dan rasa bersalah. Kamu ketawa lebih keras, lebih kenceng, kayak cowok yang akhirnya sadar bahwa hidup itu harusnya dijalani dengan gigi terbuka dan tinju terkepal. Kamu mulai kejar matahari, tunggangi ombak, lempar dirimu ke resiko berikutnya kayak itu hutang tunjangan anak ke kamu. Kamu beli tiket, minum mezcal, dan lakuin semuanya tanpa minta izin dari siapapun kecuali nadimu sendiri.

Kamu mulai hidup dengan cara yang orang membosankan takuti. Keras, panas, elektrik, jelek, suci, melesat melewati eksistensi tanpa sabuk pengaman dan tanpa peduli sama peringatan-peringatan rapuh yang masyarakat coba tato di jidatmu. Sekarang iblis-iblismu ngos-ngosan, kehabisan napas, desperately cek Google Maps karena kamu tinggalin mereka bermil-mil di belakang di bundaran pertama.

Kamu nggak jelasin apapun ke siapapun. Bukan ke nyokap, bukan ke bos, bukan ke mantan, bahkan bukan ke suara kecil di kepalamu yang masih pikir “kehati-hatian” itu kebajikan. Kamu nggak hidup buat impress; kamu hidup buat lahap. Kamu cium ceweknya. Kamu book penerbangannya. Kamu pesen makanan paling mahal di menu dan makan pake tangan kayak manusia gua kelaparan yang baru nemuin foie gras. Kamu ceritain jokes di pemakaman cuma buat ingetin yang mati bahwa mereka ketinggalan. Kamu tatap bahaya di mata dan kedip kayak kamu nggak punya apa-apa lagi yang bisa hilang. Kamu pake linen dan sunburn dan air asin dan cengiran yang bikin orang nggak nyaman dengan cara terbaik.

Kamu ketawa kayak Allah bisik-bisik rahasia di kupingmu dan punchlinenya adalah semua orang lain. Dunia bakal ngeliatin. Biarin. Biarin mereka melotot, gosip, iri, doa, benci, tiru, atau kejar. Kamu bukan cuma hidup lagi. Kamu bakar naskahnya, bakar blueprintnya, dan nulis legendamu dengan sapuan kuas besar, nekat, suci yang nggak muat di galeri siapapun.

Peras setiap tetes. Tinggalin nggak ada buat cacing. Ketawa gede banget sampe iblis-iblismu cemburu dan minta kesempatan kedua buat hidupmu. Hidup sampai hidup itu sendiri kehabisan napas, berusaha ngikutin kamu.

Karena kalau kamu nggak hidup sekeras itu, ngapain kamu di sini?

Yin Yang. Hidup keras supaya nanti kamu bisa hidup santai.

50 Cara Peras Hidup Kering (Bukan Cuma Coli ke Idenya)

Kamu mau beneran hidup? Bukan bikin status soal itu. Bukan coret-coret di jurnal dan bilang ke terapismu “mikirin perubahan.” Aku maksud lakuin, keluar, tatap eksistensi di muka, dan acungin jari tengah. Ini starter kitmu, para noob. Skip satu dan kamu balik ke mode NPC, dan kamu harus hidup sama dirimu sendiri. Nggak ada refund. Nggak ada maaf. Ini blueprint metamorfosis resmi, ala Day, berbahan bakar chaos, nikah shotgun.

Pilih satu. Pilih tiga. Pilih semua lima puluh dan overdosis pengalaman. Ini cara kamu berhenti jadi penonton dan mulai jadi ceritanya.

  1. Booking penerbangan yang terus kamu “riset.”
    Serius. Berhenti jadi pelacur Tiket.com. Klik “beli,” packing asal, dan hadapi konsekuensinya di zona waktu baru.

  2. Jalan ke laut dan ceburin dirimu dari kepala sampe kaki.
    Baptis dirimu di garam dan penyesalan. Poin ekstra kalau kamu nggak cek hiu dulu.

  3. Beli linen, linen beneran, dan bakar apapun yang ada “polyester blend.”
    Kamu bukan karyawan Subway, berhenti berpakaian kayak kerja di situ.

  4. Tatap mata orang paling hot di ruangan sampai mereka yang buang muka.
    Ini perang psikologis. Senyum kayak kamu tau sesuatu tentang mereka yang nyokap mereka nggak tau.

  5. Pesen makanan di menu yang nakutin kamu. Makan pake tangan.
    Kalau nggak ada pulsanya atau warning labelnya, balikin.

  6. DM seseorang di luar ligamu terus eskalasi.
    Poin bonus kalau kamu diblokir. Artinya kamu nembak cukup tinggi.

  7. Naik motor waktu subuh. Kalau nggak punya, sewa atau curi (aku bercanda. Kinda).
    Satu pesan hati hati di jalan. Atau mati, setidaknya kamu bakal punya batu nisan legendaris.

  8. Telepon seseorang dan bilang hal yang udah kamu latihan di kepalamu setahun.
    Kalau suaramu nggak pecah, kamu nggak cukup dalam.

  9. Dateng ke party sendirian dan bertingkah kayak kamu punya tempatnya.
    Pura-pura itu rumahmu. Kumpulin gosip.

  10. Berhenti nikotin seminggu cuma buat buktiin kamu bukan budak.
    Selamat datang di Olimpiade sakau, pecundang.

  11. Coba surfing, walaupun kamu keliatan kayak tupai ketelep.
    Nggak ada yang inget cowok yang main aman di pantai.

  12. Buang setiap baju yang bikin kamu ngerasa invisible.
    Kalau kamu nggak mau pake itu di sex tape, bakar.

  13. Ketawa waktu kamu harusnya diem.
    Di gereja, di pemakaman, di meeting, poin bonus buat snort.

  14. Bilang ke bosmu yang bener buat sekali.
    Dan merunduk.

  15. Habiskan seharian dalam diam dan liat apa kamu survive pikiranmu sendiri.
    Aku taruhan kamu nggak bisa.

  16. Belajar masak signature dish dan sajikan telanjang (poin bonus kalau ada tamu).
    Jangan goreng nugget. Percaya sama aku.

  17. Liat matahari terbit dan tereak sesuatu primal.
    Channel inner caveman kamu. Bangunin RT RW.

  18. Tolak minta maaf buat ambisimu.
    Ambil tempat, hancurin barang, bikin orang nervous.

  19. Flirting sama penolakan, minta lebih, ditolak, ketawa soal itu.
    Setiap “nggak” itu flex. Frame yang terbaik.

  20. Tulis daftar penyesalanmu, bakar, kencing di abunya.
    Terus flush.

  21. Berkelahi atau minimal gulat sama sahabat.
    Itu bukan toxic, itu bonding.

  22. Jalan tanpa HP, dompet, atau tujuan.
    Tersesat. Temuin sesuatu yang worth diinget.

  23. HIPOTETIKAL Colong rambu jalan buat dindingmu.
    Kalau kamu ditangkep, kirimin aku foto mugshot.

  24. Puji orang asing begitu berani sampe mereka blushing.
    Skip “sepatu bagus.” Langsung ke “Kamu keliatan kayak villain Bond dengan cara terbaik.”

  25. Ambil foto yang nakutin calon employermu.
    Ini legacymu, bukan LinkedIn.

  26. Mulai baca Alquran, pilih kitab paling violent.
    Simson itu savage. Gideon itu lunatic. Salomo itu genius. Daud itu brutal. Catat.

  27. Hancurin rutinitasmu dan lakuin kebalikannya seminggu.
    Tangan kiri, terbalik, kebalikan, apapun.

  28. Bilang ke orangtuamu sesuatu yang kamu sumpah nggak akan pernah bilang.
    Lihat otak mereka nge-hang, mulut terbuka, mata kosong, pelatihan parenting mereka error.

  29. Joget, jelek, di tempat umum.
    Kalau nggak ada yang ketawa, usaha lebih keras.

  30. Crash wedding dan ciptain identitas baru.
    Poin bonus kalau kamu dapet dansa sama nenek.

  31. Nemu rooftop dan melolong ke kota.
    Undang tetangga. Atau jangan.

  32. Tip barista langganan kamu sampai mereka inget namamu.
    Minuman lebih enak kalau staff sayang sama kamu.

  33. Dapetin tan. Kayak, beneran tan.
    Gosong, ngelupas, ulang. Melanoma itu cuma warning label dari Allah.

  34. Meditasi, tapi cuma abis shot vodka.
    Spiritual dan bodoh.

  35. Post sesuatu yang beneran kamu percaya (tonton unfollow-nya).
    Kebenaran itu deodoran terbaik.

  36. Hancurin stash pornomu selamanya. Delete website dari memorimu.
    Coba. Selamat datang kembali ke realita.

  37. Kasih setengah lemarimu ke orang yang lebih butuh.
    Kamu bakal keliatan lebih hot, percaya sama aku.

  38. Bilang “nggak” ke sesuatu yang selalu kamu bilang “iya.”
    Tonton otakmu panik.

  39. Bilang “iya” ke sesuatu yang selalu kamu bilang “nggak.”
    Kejutin dirimu sendiri.

  40. Tidur di tempat liar, pantai, rooftop, hutan, kasurnya.
    Poin bonus buat perkemahan ilegal.

  41. Maafin seseorang yang mau kamu tonjok.
    Atau tonjok aja, terus maafin. Terserah kamu.

  42. Tulis surat ke dirimu umur 14 tahun. Kirim ke orang random.
    Bikin mereka bingung setengah mati.

  43. Makan street food di negara yang namanya kamu nggak bisa pronounce.
    Jangan tanya. Cuma kunyah.

  44. Join cult (sehari aja, cuma buat liat).
    Terus tulis review TripAdvisor.

  45. Pecat orang toxic dari hidupmu, tanpa drama, cuma hilang.
    Menghilang kayak Houdini dengan rambut lebih bagus.

  46. Habiskan Rp 1.500.000 buat sesuatu yang bener-bener pointless, cuma buat cerita.
    Cerita itu satu-satunya investasi bagus.

  47. Ceritain kisahmu ke orang asing kayak itu mitos epik.
    Bikin dirimu kedengeran kayak bajak laut. Tambahin bekas luka.

  48. Berdoa sebelum makan di restoran paling rusak yang bisa kamu temuin.
    Poin bonus buat ketulusan.

  49. Workout gila sampe kamu hampir pingsan, terus senyum soal itu.
    Leluhurmu nonton. Bikin mereka cemburu.

  50. HIPOTETIKAL Mulai kerusuhan (di kepalamu sendiri, terus mungkin di luar).

Message aku kalau kamu lakuin salah satunya.

Aku selalu bales teman yang baca. Kamu.

Kamu mau hidup kayak aku?
Berhenti minta izin. Berhenti coli ke idenya. Pilih sesuatu di atas dan lakuin sebelum tengah malam. Aku mau jiwamu nggak bisa dikenali waktu matahari terbit, berkeringat dan ketawa dan terbakar dengan cerita-cerita baru. Dan itu intinya.

Pergi bikin kekacauan. Terus tulis aku dari manapun kamu berakhir.

🙏🙏🙏

Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated đź’–! Sawernya juga boleh