Meminta Tanpa Mengemis

Aroma keputusasaan itu busuk. Baunya tajam, menyengat, seperti keringat dingin di kasino jam 3 pagi saat kamu sadar uang sewa rumahmu baru saja hangus di meja roulette.

Tapi ini bukan kasino. Ini sajadahmu.

Kamu menangis. Kamu meraung. Kamu memohon pada Allah seolah Dia adalah rentenir yang memegang surat tanahmu. Kamu pikir itu “khusyuk”? Omong kosong. Itu bukan ibadah. Itu panik. Itu adalah ego yang sedang hiperventilasi, terbungkus jubah agama.

Hal yang kamu tangisi, hal yang kamu minta sampai urat lehermu tegang itu—barang itu sudah ada. Sudah tertulis. Kalau Allah tidak berniat memberikannya, keinginan itu tidak akan pernah tumbuh di dadamu. Keinginan itu sendiri adalah bukti barangnya ada. Asap membuktikan api. Lapar membuktikan makanan. Rindu membuktikan pertemuan.

Allah bilang: “Tidak ada bencana di bumi atau pada dirimu yang belum tertulis dalam Kitab sebelum Kami jadikannya nyata.”

Artinya? Skenario sudah dicetak.

Jika bencana sudah tertulis, maka kemenanganmu, hartamu, jodohmu, warasmu—semua juga sudah tertulis. Paketnya sudah dikirim. Resi sudah dicetak.

Lantas kenapa belum sampai?

Karena kamu menahannya di pintu. Tanganmu sendiri yang memalang pintu itu dengan keraguan konyol yang kamu sebut “harapan”.

Gravitasi Tidak Peduli Perasaanmu

Allah bilang: “Panggillah Aku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”

Ini bukan puisi. Ini hukum fisika. Sama brutal dan pastinya dengan gravitasi. Jika aku lempar gelas ini, dia jatuh. Pecah. Tidak peduli aku orang baik atau jahat, tidak peduli aku sedang sedih atau bahagia. Hukum tidak punya emosi.

Sama dengan doa. Kamu panggil, Dia jawab. Titik. Mekanismenya selesai.

Masalahnya ada di kepalamu: Kepada siapa kamu berdoa?

Banyak dari kalian tidak berdoa pada Allah. Kalian berdoa pada kecemasan kalian sendiri yang kalian beri label “Allah”. Kalian menyembah rasa takut. Kalian menciptakan berhala mental berupa “Allah yang Pelit”, “Allah yang Menunda”, “Allah yang Perlu Dibujuk”.

Kamu merengek seperti pengemis di lampu merah. Kamu pikir Allah terkesan dengan air mata buayamu? Tidak. Dia Maha Kaya. Dia maha Karunia.

Saat kamu berdoa dengan panik, kamu sedang menghina Sang Pemberi. Kamu seolah bilang, “Aku tidak percaya Kau akan kasih, jadi aku akan teriak lebih keras.”

Itu bukan iman. Itu ateisme terselubung.

Protokol Sang Raja

Kalau kamu tahu kamu sedang bicara dengan Raja Semesta Alam yang sudah menjamin rezekimu, kamu tidak akan gemetar. Kamu akan tenang. Bahumu rileks. Napasmu panjang.

Kamu akan meminta dengan nada seseorang yang mengambil pesanan yang sudah dibayar lunas.

“Ya Allahku, aku siap menerima.”

Selesai.

Lalu kenapa kamu masih gelisah?

Karena wadahmu kekecilan. Kamu minta samudra, tapi kamu datang bawa cangkir espresso retak. Kalau Allah tuangkan samudera itu sekarang, kamu akan hancur. Jiwamu meledak.

Penundaan bukan berarti Allah tidak menerima hajadmu. Itu proteksi. Allah sedang menunggu kamu membuang cangkir retak itu dan menyiapkan tangki yang layak.

Cara Berhenti Menghalangi Rezeki

Jangan tanya aku langkah-langkah manis. Ini strategi perang melawan egomu sendiri.

1. Bunuh Tuhan Palsumu
Berhenti menyembah “Tuhan yang Ragu”. Kembali ke Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan). Sebelum mulutmu terbuka untuk meminta, pasak di otakmu: “Ini pasti dijawab. Selesai.” Jika kamu ragu 1% saja, kamu sedang main taruhan, bukan berdoa.

2. Perbesar Wadah dengan Bersyukur
Syukur bukan cuma bilang “Alhamdulillah” sambil ngelamun. Syukur adalah memaksa matamu melihat apa yang sudah ada.
Tiga menit. Tulis tiga hal. Rasakan sampai dadamu sesak oleh rasa cukup. Rasa cukup ini yang melebarkan dinding jiwamu. Frekuensi “Sudah Punya” menarik lebih banyak “Punya”. Frekuensi “Kurang” menarik lebih banyak “Kurang”. Fisika sederhana.

3. Simulasi Realitas
Nabi bilang doa adalah ibadah. Keyakinan adalah jembatannya.
Bayangkan doa itu sudah terjadi. Bukan pakai “semoga”, tapi “sudah”. Jalanlah di muka bumi dengan dagu terangkat seolah kontrak miliaran itu sudah di tangan, seolah penyakit itu sudah sembuh, seolah jodoh itu sudah di sebelahmu.

4. Lepaskan Cengkeramanmu
Berhenti mencekik doamu sendiri. Lepaskan.
Kamu sudah kirim pesanan. Koki sedang masak. Jangan lari ke dapur dan teriak-teriak pada koki. Itu tidak mempercepat masakan, itu cuma bikin koki kesal dan kamu diusir keluar.

Relaks. Diam. Percaya.

Ultimatum

Kamu punya dua pilihan malam ini:

Tetaplah menjadi pengemis spiritual, meratap di pojokan menunggu remah-remah, membenci hidup dan menyalahkan Allah atas ketidakmampuanmu percaya.

Atau berdiri tegak.
Sadari siapa Rajamu.
Ambil hakmu.

Barang itu sudah tertulis. Paketnya sudah di depan pintu.
Singkirkan keraguanmu, buka pintunya, dan ambil.

Sekarang.

🙏🙏🙏

Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh