
Pagi ini aku duduk di teras Indomaret sambil ngopi Americano tiga shot, duduk tenang sendiri
Menyesap kopi hitam pekat, rasanya seperti hukuman.
Dan aku menonton dunia mempermalukan dirinya sendiri.
Seorang pria berlari lewat dengan wajah merah padam, napas memburu, perutnya berguncang di setiap langkah siksaan. Aku bersumpah, perut buncitnya sudah bikin seragam PNS nya kehilangan dua kancing. Tapi lihat ini: bahkan dalam kondisi setengah mati itu, matanya tetap nunduk. Menatap layar menyala di tangannya, menggulung feed seakan-akan dopamin itu oksigen. DIA SAMBIL SCROLLING REELS, LOWL.
Itu tawa pertamaku pagi ini.
Di belakangnya ada emak emak bertato dengan pakaian minim seperti tidak menggunakan beha, lagi ngumpul dengan emak emal lain mau beli air jamu, ponselnya nonjol di belakang celana nya, paha nya seperti abis cari validasi. Wajahnya keringat becucuran kosmetik, ekspresinya menahan putus asa, dan aku membatin: “ini suami nya lagi sibuk manjain sekretaris nya kali ya”. Cari perhatian bukti dia bukan emak emak biasa. Tetesan infus atensi.
Lalu seorang mahasiswa dengan tas ransel nya lewat, dan aku bisa mencium bau pengecut darinya sepatu sneakar yang penuh kotoran. Celana jeans nya kusam, kemeja yang tak pernah disetrika, dan topi dengan tulisan tagline ala Anime. Dia celingukan kanan-kiri, berharap tidak ada yang memperhatikannya. Rasanya mau aku teriaki: “kau selama ini kemana saja”, Nak. Kamu bisa bohongin cewek di kampus, tapi laut nggak akan bisa dibohongi.
Padahal di atas kami, langit sedang mengamuk indah. Matahari terbit seperti katedral warna api yang tumpah di cakrawala dalam pengakuan dosa yang brutal, dan nggak ada satu pun dari bajingan-bajingan malang ini yang nengok ke atas. Sekalipun nggak.
Di situlah aku merasakannya. Tes rahasia yang aku pakai buat menilai setiap laki-laki. Apa dia bakal angkat kepala melihat neraka indah ini, atau dia bakal nunduk menyembah mesin di tangannya? Apa dia bakal mengakui kanvas cahaya yang Tuhan lempar tiap pagi, atau dia bakal nge-scroll lewat kayak pengecut yang pura-pura nggak lihat tiang gantungan?
Dan saat aku duduk di sana, membiarkan tenang bersama pohon tinggi yang sudah berdiri puluhan tahun di depan matahari, aku sadar kenapa kebanyakan orang nggak akan pernah berhasil. Mereka akan mengabaikan bola api Tuhan, mengabaikan keajaiban, mengabaikan momen ini. Mereka hidup pakai aturan yang ditulis laki-laki lemah untuk laki-laki yang lebih lemah. Aturan yang didesain biar mereka jadi penurut. Sopan. Tidak berbahaya.
Aku habiskan kopiku dan membiarkan otakku bicara sendiri.
Aku Lihat mereka. Domba buta yang cuek sama api. Sisi lain Mungkin mereka bahagia. Mungkin menjadi aman itu hadiahnya.
Aman itu penjara. Bahagia nggak datang dalam seragam warna orange.
Sisi Lain Tapi aturan bikin hidup simpel. Kamu tahu harus ke mana. Nggak pernah tersesat.
Aku Mending tersesat di dalam api daripada ditemukan dalam kebosanan.
Sisi Lain bakal terbakar.
Bakar saja aku. Lebih baik jadi abu daripada jadi rata-rata.
Aku selesaikan kopiku, langit biru dan matahari sedang tertawa, dan aku senyum sendiri. Karena aku tahu kebenaran yang nggak bakal sanggup mereka telan: satu-satunya cara untuk benar-benar hidup, dicintai, dan diingat, adalah dengan melanggar aturan.
Aturan itu rantai. Mereka menjual naskah dan menyebutnya “hidup”. Kuliah, kerja, istri, rumah, dua kali naik kapal pesiar sebelum mampus. Itu bukan hidup.
Setiap laki-laki yang pernah kamu kagumi melanggar aturan. Setiap penjahat, setiap bajingan, setiap pahlawan. Hemingway dengan botol dan pelurunya. Bukowski berdarah di atas mesin tik. Jack London mati beku di Yukon cuma buat bilang dia pernah ke sana. Mereka bukan orang aman. Mereka bukan orang sopan. Mereka serigala, dan serigala nggak makan rumput dengan sopan di padang gembala. Serigala itu memangsa.
Uang nggak datang dari mematuhi aturan. Nggak ada orang kaya karena sopan. Kekayaan datang dari kegilaan, dari melihat apa yang orang lain terima sebagai nasib dan meludahinya. Skor besar dicetak oleh orang gila yang memulai perkelahian dengan takdir.
Behind every great fortune there is a crime. Bolzac
Aku nggak mau cinta dari aturan. Nggak ada wanita yang jatuh cinta sama laki-laki yang mewarnai di dalam garis. Cinta itu milik laki-laki yang bawa api ke dalam ruangan. Laki-laki yang bikin dia takut dengan kebebasannya, bikin dia gelisah dengan diamnya, bikin dia ketawa kayak hyena mabuk. Bunga dan dinner date dari Tinder? Itu ngikutin aturan. Itu cara dapat ucapan terima kasih, bukan cara untuk dilahap.
Aku nggak mau petualangan dari aturan. Petualangan itu memar, bukan brosur wisata. Aku pernah bangun di atap di pulau antah berantah dengan darah di baju dan cerita di bibir. Aku pernah mencium wanita yang namanya nggak aku tahu dan tertawa kayak bajak laut waktu mereka menceritakan kebohongan.
Dan aku nggak mau hormat dari aturan. Hormat nggak datang dari membungkuk. Hormat datang dari bikin orang takut, dari menjadi begitu mentah sampai mereka tutup mulut waktu kamu masuk ruangan. Hormat itu didapat dari melakukan hal yang kata orang bakal membunuhmu, lalu kamu balik ke kota sambil nyengir dengan kemeja robek. Lihat bagaimana cara mereka menghormatimu setelah itu.
Buku catatanku gemetar sekarang karena aku menulis ini sambil tertawa. Tertawa karena kebanyakan laki-laki nggak bakal paham betapa simpelnya ini: aturan bukan buat keselamatanmu, itu buat kurunganmu. Aturan nggak ditulis sama dewa, ditulis sama laki-laki penakut yang pengen dunia ini lebih kecil, lebih pelan, lebih lunak.
Persetan itu. Aku ambil apinya. Aku ambil bekas lukanya. Aku ambil tawa dan pagi-pagi di mana matahari rasanya seperti tantangan. Aku ambil musuh yang menyumpahi namaku dan wanita yang meneriakkannya. Aku ambil risiko membakar semua yang aman karena “aman” nggak pernah memberiku cerita yang layak ditulis.
Lebih baik jadi abu daripada rata-rata. Selalu.
Ini bagian yang kamu tunggu, bagian “terus aku harus ngapain sekarang?” seolah aku ini guru kekacauan yang membagikan komuni. Oke. Tapi aku nggak bakal menyuapi langkah-langkahnya. Aku kasih kamu tantangan.
Mulai dengan hancurkan satu hal yang bikin kamu nyaman. Satu saja. Rapat itu, kebiasaan itu, keheningan sopan yang selama ini kamu telan. Bakar itu dan rasakan betapa hidupnya kamu di dalam asapnya.
Lalu lakukan sesuatu yang nekat di depan umum. Posting hal yang bakal mereka sebut berbahaya. Ucapkan hal yang terlalu pengecut buat mereka katakan. Hiduplah satu hari dengan begitu berani sampai musuhmu menggumamkan namamu seperti kutukan.
Aturan Yang Tidak Boleh Kamu Ikuti
Ini bagian yang nggak bakal kamu dengar dari orang lain. Baca ini. Bakar di kepalamu.
Allah memberkati para pencari kebebasan.
Allah tolong sisanya.
Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh