Tulisan di dalam Kebencian

Ada cukup pengkhianatan, kebencian, kekerasan, dan absurditas dalam rata-rata manusia untuk memasok pasukan mana pun di hari mana pun.

Orang-orang terbaik dalam membunuh adalah mereka yang berkhotbah menentangnya. Terbaik dalam membenci adalah mereka yang berkhotbah tentang cinta. Terbaik dalam perang adalah mereka yang berkhotbah kedamaian.

Mereka yang berkhotbah Tuhan membutuhkan Tuhan. Mereka yang berkhotbah kedamaian tidak punya kedamaian. Mereka yang berkhotbah cinta tidak punya cinta.

Waspadalah para pengkhotbah. Waspadalah para sok tahu. Waspadalah mereka yang selalu membaca buku. Waspadalah mereka yang membenci kemiskinan atau bangga dengannya. Waspadalah mereka yang cepat memuji, karena mereka butuh pujian balik. Waspadalah mereka yang cepat mencela. Mereka takut pada yang tidak mereka pahami. Waspadalah mereka yang mencari kerumunan konstan. Mereka bukan siapa-siapa saat sendirian.

Waspadalah pria rata-rata. Wanita rata-rata. Waspadalah cinta mereka. Cinta mereka rata-rata. Mencari rata-rata.

Tapi ada kejeniusan dalam kebencian mereka. Cukup kejeniusan untuk membunuhmu. Membunuh siapa saja.

Tidak menginginkan kesendirian. Tidak memahami kesendirian. Mereka akan berusaha menghancurkan apapun yang berbeda dari mereka sendiri.

Tidak mampu berkreasi, mereka tidak akan memahami seni. Mereka akan menganggap kegagalan mereka sebagai kreator hanya sebagai kegagalan dunia. Tidak mampu mencintai sepenuhnya, mereka akan percaya cintamu tidak lengkap.

Dan mereka akan membencimu.

Kebencian mereka akan sempurna. Seperti berlian bersinar. Seperti pisau. Seperti gunung. Seperti harimau. Seperti racun.

Seni terbaik mereka.


Konsumasi duka. Aku bahkan mendengar gunung-gunung. Cara mereka tertawa naik turun sisi biru mereka. Dan di dalam air, ikan-ikan menangis. Semua air adalah air mata mereka.

Aku mendengarkan air di malam-malam aku minum habis. Kesedihan menjadi begitu besar aku mendengarnya di jam dindingku. Menjadi kenop di meja riasku. Menjadi kertas di lantai. Menjadi sendok sepatu. Tiket laundry. Menjadi asap rokok mendaki kapel sulur-sulur gelap.

Tidak terlalu penting. Sangat tidak penting cinta. Atau sangat tidak penting hidup.

Yang penting adalah menunggu di dinding.


Aku dilahirkan untuk ini. Dilahirkan untuk menjajakan mawar di jalan-jalan orang mati.


Menulis sendiri di siang bolong. Jalan gang sepi jadi kekuasaan biawak. Sadar. Keringat mengalir di lengan. Bintik keringat di meja. Kuratakan dengan jari.

Uang darah. Uang darah.

Tuhan, mereka pasti mengira aku menikmati ini seperti yang lain.

Tapi ini untuk buah. Kopi. Dan bayar listrik pdam.

Uang darah.

Aku tegang. Payah. Merasa buruk. Orang-orang kasihan. Aku gagal. Aku gagal.

Seorang wanita berdiri. Keluar. Membanting pintu.

Tulisan bahaya. Seseorang bilang jangan baca tulisan kotor di sini. Sudah terlambat. Mataku tidak bisa lihat beberapa baris. Kubaca terus. Putus asa. Gemetar. Payah. Mereka tidak dengar suaraku.

Dan aku bilang aku menyerah. Itu saja. Aku selesai.

Nanti di kamarku. Ada kurma dan cola. Darah seorang pengecut.

Ini lah takdirku. Mengais cuan. Aula-aula kecil gelap. Membaca tulisan blog yang sudah lama membuatku muak.

Dulu aku pikir pria yang menyetir bus atau membersihkan taman atau membunuh orang di kost-an adalah orang bodoh.


Aku bawa pacarku ke coffeeshop membaca tulisan terbaruku, katanya. “Ya, ya,” aku tanya? Dia muda dan cantik.

Dia bilang suka perutku. Padahal aku ingin mengecilkannya

Lalu dia berbaring di sofa dan melepas sepatunya.

“Aku tidak punya kaki yang bagus,” katanya.

“Baiklah,” pikirku. “Aku tidak punya tulisan yang bagus.”

Dia tidak punya kaki bagus.

Sama-sama berantakan.


Aku gelandangan di kota kelahiran ku. Tapi suatu kali orang-orang terhormat mengundang aku di suatu acara bersama orang-orang berpakaian rapi.

Mereka menghormati ku. Tapi ada yang tidak beres dengan kehadiran nya. Ada yang tidak beres dengan panitia dan tamu undangan nya. Meski gedungnya bagus. Dekorasi nya sempurna.

Aku lebih suka sendirian ngopi di teras Indomaret.

Setelahnya aku kembali ke rumah. Menyalakan komputer. Tapi ada gedoran di dinding sebelah.

Matikan sialan itu.

Ada tentara di rumah sebelah. Tinggal dengan istrinya. Sebentar lagi akan pergi ke sana. Melindungiku dari Hitler.

Jadi kumatikan komputer.

Lalu kudengar istrinya bilang, Kamu seharusnya tidak melakukan itu.

Tentara itu bilang, Persetan orang itu.

Yang menuruku hal sangat menyenangkan untuk dibilang tentang istrinya.

Tentu saja dia tidak pernah melakukannya.

Aku tidak pernah tertarik nonton konser langsung.

Malam itu aku dengarkan suara musik komputer dengan sangat pelan. Telingaku menempel di speaker.

Perang punya harganya. Kedamaian tidak pernah bertahan. Jutaan pria muda di mana-mana akan mati.

Saat aku mendengarkan musik klasik, kudengar mereka bercinta. Putus asa dan sendu. Melalui Shostakovich. Brahms. Mozart. Melalui crescendo dan klimaks. Melalui dinding-dinding bersama kegelapan kami.


Yang paling di sini datang kepala ikan bernyanyi. Datang kentang panggang menyeret. Datang tidak ada yang dilakukan sepanjang hari. Datang malam lagi tanpa tidur. Datang telepon berdering nada salah. Datang rayap bawa banjo. Datang tiang bendera mata kosong. Datang kucing dan anjing pakai stoking nilon. Datang senapan mesin bernyanyi. Datang bacon terbakar di wajan. Datang suara bicara sesuatu membosankan. Datang koran diisi burung merah kecil paruh coklat pipih. Datang pelacur bawa obor, granat, cinta mematikan. Datang kemenangan bawa satu ember darah dan tersandung semak beri.

Seprai tergantung di jendela. Pembom menuju timur, barat, utara, selatan. Tersesat. Terlempar seperti salad.

Semua ikan di laut berbaris membentuk satu garis. Satu garis panjang. Satu garis sangat panjang tipis. Garis terpanjang yang bisa kau bayangkan.

Dan kita tersesat berjalan melewati gunung ungu. Berjalan tersesat. Telanjang akhirnya. Seperti pisau yang telah memberi. Telah meludahkannya. Seperti biji zaitun tak terduga.

Saat gadis di layanan telepon berteriak, Jangan telepon lagi. Kau terdengar seperti orang tolol.


Orang-orang tua dengan pensiun. Di supermarket. Kurus. Bangga. Sekarat.

Mereka kelaparan sambil berdiri. Tidak berkata apa-apa.

Dulu, di antara kebohongan lain, mereka diajari diam adalah keberanian.

Sekarang setelah bekerja seumur hidup, inflasi menjebak mereka. Mereka melihat sekeliling. Mencuri anggur. Mengunyahnya.

Akhirnya mereka membeli sedikit. Senilai satu hari. Kebohongan lain yang diajarkan: Jangan mencuri.

Mereka lebih baik kelaparan daripada mencuri.

Satu anggur tidak akan menyelamatkan mereka.

Di kamar-kamar kecil, membaca iklan pasar. Mereka akan kelaparan. Mati tanpa suara.

Ditarik dari rumah kost oleh anak-anak muda rambut panjang yang menggeser mereka masuk dan pergi dari trotoar.

Anak-anak ini tampan matanya. Memikirkan Validasi. Seks. Kemenangan.

Itulah tatanan hal-hal. Setiap orang mendapat rasa madu.

Lalu pisau.


Aku tidak sebegitu cinta dengan karyaku.

Yang menarik buatku adalah apa yang akan kuketik besok malam. Hanya itu yang menarik. Tulisan berikutnya. Baris sialan berikutnya.

Yang sudah lewat sudah lewat. Aku tidak mau berlama-lama. Membacanya. Memainkannya. Menyombongkannya.

Sudah selesai. Sudah beres.


Tapi bagaimana dengan hal-hal seperti tulisan gaya hidup sehat? Kau melihat kembali itu?

Semuanya sudah pergi. Sudah selesai. Sudah lewat.

Penulisan itu sendiri adalah pelepasan. Itu kemenangan. Itu saja yang kulakukan.

Kalau kau tidak bisa menulis baris berikutnya, kau mati. Masa lalu tidak penting.


Kau masih menulis setiap malam?

Ya. Tidak setiap malam. Tiga atau empat dari tujuh.

Kalau aku tidak dapat itu dan tidak bersikap benar, aku merasa sakit. Sangat depresi.

Ini pelepasan. Ini pelepasan.

Ini psikiaterku. Mengeluarkan omong kosong ini.

Beruntung aku dibayar untuk itu. Aku akan melakukannya gratis.

Sebenarnya aku akan membayar untuk melakukannya.


Dan bertahun-tahun tidak dibayar untuk menulis?

Tidak sama sekali.

Berapa lama kau bekerja sebagai konsultan IT? Lima belas? Delapan belas tahun?

Tidak. Aku berhenti di usia tiga puluh.

Itu kedua kalinya aku kembali.

Ya. Aku tidak pernah jadi karyawan. Ayahku tidak setuju aku menjadi karyawan.

Cukup dingin saat aku pergi di malam kebebasan ku.

Seorang pria bilang, abang itu itu pasti gila. Tak pernah punya karir. Apa yang akan dia lakukan?

Pria lain bilang, Tuhan aku tidak tahu. Apa yang dia lakukan? Dia tidak berpikir benar.

Aku keluar dari gedung itu menuju mobilku. Jalan panjang gelap.

Kupikir, Ya Allah. Mungkin mereka benar.

Tapi aku tidak peduli. Aku siap turun ke jalanan.

Aku sudah muak. Hanya Allah yang punya rencana ku.


Surat penggemar.

Aku sudah lama membacamu.

Baru saja menidurkan anak ku Bily. Dia kena tujuh kutu jahat entah dari mana setelah main bersama teman temannya. Aku tertular dua. Suamiku Benny kena tiga.

Benny suka menulis puisi. Dia sering diundang kampus Malaysia untuk membawakan puisinya. Dia ingin menjadi penulis terhebat se-asia. Tapi dia punya emosi. Dia pernah baca puisi suatu kali dan seseorang tertawa di salah satu puisi seriusnya. Benny keluarkan barangnya di situ dan kencing di atas panggung.

Dia bilang kau menulis di blog cukup bagus tapi kau tidak bisa membawa bola-bolanya di kantong kertas.

Bagaimanapun aku buat semangkuk besar marmalade tadi malam. Kami semua suka sekali marmalade di sini.

Benny kehilangan pekerjaannya kemarin. Karena bosnya ketawan selingkuh dengan wanita simpanan. Tapi aku masih punya pekerjaanku di salon manikur.

Kau tahu, pelacur datang untuk manikyur. Bang Firas tidak suka main pelacur kan?

Bagaimanapun aku hanya ingin menulis padamu. Tulisan abang dibaca dan dibaca ulang di sini.

Apa kamu suka marmalade bang Firas?

Kurasa marmaladenya sudah cukup dingin untuk dimakan sekarang.

Sampai jumpa. Dora.


Keberuntungan.

Dulu kita muda di mesin ini. Minum. Merokok. Mengetik. Waktu paling megah dan ajaib.

Masih begitu.

Hanya sekarang alih-alih bergerak menuju waktu, waktu bergerak menuju kita.

Membuatnya setiap kata menembus kertas. Jelas. Cepat. Keras.

Memberi makan ruang yang menyempit.


Ya, mereka bilang aku jago bercerita.

Aku sudah hidup banyak. Mendengar cukup banyak percakapan sampah.

Seharusnya begitu.

Telingamu luar biasa. Kau punya pola bicara datar itu.

Ya. Pekerja pabrik. Pekerja pabrik dan semua itu.

Orang-orang yang aku tulis tentang. Aku diberkati dengan kehidupan busuk. Itu saja.

Kehidupan busuk untuk ditulis. Sungguh beruntung.

Anak anak muda sekarang tidak tertarik dunia sastra. Mereka suka bikin kata kata keluhan di video malam jalanan kota. Pergi ke coffeeshop hanya minum matcha dan tidak ada yang terjadi selain itu. Jadi mereka melewatkan tumpukan kotoran.


Dan aku terus mencoba meninggalkan Kalimantan?

Ya. Aku terus kembali.

Kenapa aku terus pergi? aku selalu pergi kan?

Aku tidak tahu. Untuk sementara selalu ada mimpi. Aku akan menemukan kota yang berbeda dari yang lain. Itu bodoh.

Aku akan bertemu orang berbeda. Cara berbeda. Setiap kota sedikit berbeda. Tapi tidak jauh.

Dihuni oleh manusia. Itu saja. Tidak banyak yang bisa kau lakukan.

Jadi aku lelah mencari. Kembali. Dan di sinilah aku.


Kau sepertinya selalu menangkap rasa jarak antar orang di kota ini. Semacam kesendirian. Kesendirian fisik yang terjadi di sini.

Tapi kalau aku melakukannya, itu bukan hal disengaja. Terjadi begitu saja saat aku menulisnya.

Aku tidak tahu apa yang kulakukan.

Tapi kurasa untuk alasan tertentu aku tidak benar-benar masuk dengan arus dalam. Kurasa tulisanku benar-benar cukup sialan kuat.

Tapi kurasa setelah aku mati dan aman, mereka akan menarikku keluar.

Aku benar-benar akan ditemukan.

Benar-benar akan memuakkan.

Tapi sekarang aku suka begini. Agak tenang.

Tentu saja menulis ini mungkin merusak segalanya. Tapi ya sudahlah. Aku bisa sedikit dimanjakan kan?


Kau selalu tampak seperti nabi kesopanan.

Kau mencoba merusak penjualanku?

Itu sangat benar yang dia katakan. Tidak banyak orang yang akan bilang itu.

Itu sangat sangat benar.

Aku tidak tahu aku apa.


Terdampar di pantai. Buku catatan kuning tua keluar lagi.

Aku menulis dari tempat tidur seperti tahun lalu. Kita akan ketemu dokter hari Senin minta SKD.

Ya dokter. Kaki lemah. Vertigo. Sakit kepala. Dan punggungku sakit.

Apa kau minum, dia akan tanya. Apa kau olahraga? Vitaminmu?

Kurasa aku hanya sakit dengan hidup.

Faktor-faktor basi berfluktuasi yang sama.

Bahkan di pacuan kuda. Aku menonton kuda-kuda berlari melewati dan rasanya tidak ada artinya. Aku pergi lebih awal. Setelah membeli tiket balapan yang tersisa.

Saat aku pergi, petugas taruhan bertanya, Ya?

Membosankan, kubilang.

Kalau menurutmu membosankan di luar sana, dia bilang, kau harus coba di belakang sini.

Jadi di sinilah aku. Bersandar di bantal lagi. Hanya abang tak melakukan apa apa. Hanya penulis jalanan dengan buku catatan kuning.

Ada sesuatu berjalan melintasi lantai ke arahku.

Oh itu hanya kucingku.

Kali ini.


Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Saat tirai kuning robek. Saat kucing melompat mata liar. Saat bartender tua bersandar di kayu. Saat burung kolibri tidur.

Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Saat tank-tank berlatih di medan perang palsu. Saat banmu bekerja di jalan tol. Saat pelacur mabuk soju murahan menangis sendirian di malam hari. Saat banteng-banteng diternakkan hati-hati untuk matador. Saat rumput mengawasimu dan pohon-pohon mengawasimu. Saat laut menyimpan makhluk luas.

Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Kesedihan dan kemuliaan sepasang sandal di bawah tempat tidur. Balet jantungmu menari dengan darahmu. Gadis-gadis muda cinta yang suatu hari akan membenci cermin mereka.

Seiring waktu di neraka. Makan siang dengan salad tak bergairah.

Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Akhir seperti yang kita tahu sekarang.

Tampak seperti trik murahan. Setelah penderitaan murahan.

Tapi kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Kebahagiaan yang kadang datang. Dari entah mana.

Naik seperti bulan elang melintasi ketidakmungkinan.

Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Kegilaan juling dari total.

Kita tahu bahwa kita akhirnya tidak ditipu.

Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Saat kita melihat tangan kita. Kaki kita. Hidup kita. Jalan kita.

Burung kolibri yang tidur. Orang mati terbunuh dari tentara. Matahari yang memakanmu saat kau menghadapinya.

Kau tahu dan aku tahu dan mereka tahu.

Kita akan mengalahkan kematian.


Hal pertama yang kuingat adalah rumah dengan lantai berkayu. Itu rumah yang ngapung di tepi sungai. Aku melihat kaki-kakinya dengan kayu belian dan kalau air sungai berarus kayunya seperti menggantung. Gelap di bawah sana. Aku selalu penasaran di bawahnya

Pasti di kampung halaman ku. Pasti antara usia satu dan dua tahun. Itu 1998.

Ada sinar matahari dan bayangan air aliran. Aku suka sinar matahari. Dan suara tapak kaki setiap ada yang berjalan di antara keheningan air sungai.

Lalu tidak ada apa-apa.

Lalu Bintang Bintang malam lebaran.

Orang-orang makan. Selalu orang makan.

Aku makan juga. Pakai tangan kanan. Jadi kalau mau makan aku harus cuci tangan dulu bergantian dari orang tertua. Kalau aku ambil dengan tangan kiri, tanganku akan ditampar.

Tangan kiri hanya untuk mengambil lauk

Dua orang. Satu lebih besar dengan rambut keriting. Hidung besar. Mulut besar. Banyak alis. Yang lebih besar selalu tampak marah. Sering berteriak.

Yang lebih kecil diam. Wajah bulat. Lebih pucat dengan mata besar.

Aku takut pada keduanya.

Kadang ada yang ketiga. Yang gemuk yang pakai gaun dengan renda di leher. Dia pakai bros besar dan punya banyak kutil di wajahnya dengan rambut-rambut kecil tumbuh keluar.

Uwan, mereka memanggilnya.

Orang-orang ini tidak tampak bahagia bersama.

Hajjah nenek. Nenek dari pihak mama.

Aku tidak pernah bicara pada mereka dengan nama. Aku hanya dipanggil Abang

Orang-orang ini bicara bahasa Sambas sebagian besar waktu. Dan di awal aku juga.

Hal pertama yang kuingat dari nenekku adalah:

Aku akan papah kalian semua dengan rotan bambu kalau tidak habis.

Dia bilang ini pertama kali tepat sebelum kami mulai makan. Dan dia sering mengatakannya setelah itu. Tepat sebelum kami mulai makan.

Semuanya tampak sangat penting.

Kami makan nasi ikan goreng gembung dan sayur sawi. Terutama hari Minggu. Juga kari daging sapi. Kacang hijau rebus. Wortel. Bayam. Buncis. Ayam. Sambal ikan teri.

Ada ubi rebus. pisang rebus. Dan setiap hari Minggu ada cake dengan rasa gula merah. Mereka sebut kue Coke

Untuk sarapan kami punya kue bolu dan telur rebus. Atau sup ubi. Atau nasi goreng dan telur orak-arik di samping. Dan selalu ada teh hangat.

Tapi yang paling kuingat adalah nasi ikan goreng gembung dan sayur sawi.

Dan nenekku lagi bilang:

Aku akan papah kalian semua dengan rotan bambu kalau tidak mau makan.


Kami tidak punya uang sayang tapi kami punya hujan.

Sebut saja efek rumah kaca atau apa pun tapi memang tidak hujan seperti dulu.

Aku terutama ingat hujan-hujan era Depresi. Tidak ada uang tapi banyak hujan.

Tidak hujan hanya semalam atau sehari. Hujan tujuh hari tujuh malam.

Dan di Pontianak saluran drainase tidak dibangun untuk menampung air sebanyak itu.

Hujan turun tebal dan jahat dan mantap. Kau dengar menghantam atap dan ke tanah. Air terjun mengalir dari atap.

Ada hujan es. Batu-batu besar es mengebom. Meledak. Menghancurkan segalanya.

Dan hujan tidak mau berhenti.

Semua atap bocor. Piring, panci, panci masak ditaruh di mana-mana. Menetes parah. Harus dikosongkan lagi dan lagi.

Hujan naik melewati trotoar jalan. Melintasi halaman. Menaiki tangga. Masuk rumah.

Ada pel dan handuk kamar mandi.

Hujan sering naik dari toilet. Menggelembung coklat. Gila berputar.

Mobil-mobil tua berdiri di jalanan. Mobil yang punya masalah menyala di hari cerah.

Dan pria-pria pengangguran berdiri melihat keluar jendela. Pada mesin-mesin tua yang mati seperti makhluk hidup di luar sana.

Pria-pria pengangguran. Kegagalan di waktu yang gagal. Dipenjara di rumah mereka dengan istri dan anak dan hewan peliharaan mereka.

Hewan menolak keluar. Meninggalkan kotoran di tempat-tempat aneh.

Pria-pria pengangguran jadi gila. Terkurung dengan istri yang dulu cantik.

Ada pertengkaran mengerikan saat pemberitahuan penyitaan jatuh ke kotak surat.

Hujan dan hujan es. Kaleng Sardin. Roti tanpa mentega. Telur goreng. Telur rebus. Indomie Goreng. Dan ayam tak terlihat di setiap panci.

Ayahku selalu meninggalkan kami di hari hujan untuk urusan orang. Ibuku sedang merajut sambil menatapi jam

Aku akan buktikan diriku, aku berteriak padanya. mama pukul aku lagi dan aku akan buktikan diriku.

Mama sering melarang ku bermain di luar saat hujan. Tapi aku tetap pergi.

Tidak Abang. Kau tetap dengan mama.

Semua rumah tangga dalam pengepungan. Tapi aku percaya rumah kami menyimpan lebih banyak teror dari rata-rata.

Dan malam hari saat kami mencoba tidur. Hujan masih turun.

Dan di tempat tidur dalam gelap. Melihat bulan melawan jendela berluka. Dengan berani menahan sebagian besar hujan.

Kupikir tentang Nuh dan bahtera.

Kupikir sudah datang lagi.

Kami semua berpikir itu.

Lalu sekaligus hujan berhenti. Selalu tampak berhenti sekitar jam lima atau enam pagi.

Damai.

Tapi bukan keheningan persis. Karena hal-hal terus menetes. Menetes. Menetes.

Dan tidak ada kabut asap waktu itu.

Menjelang jam delapan ada sinar matahari kuning menyala. Kuning van Gogh. Gila membutakan.

Dan semua orang bangun dan melihat keluar.

Dan ada semua halaman masih basah kuyup. Lebih hijau dari hijau yang pernah ada.

Dan ada burung-burung di halaman. Berkicau seperti kesurupan.

Mereka belum makan layak tujuh hari tujuh malam. Sudah lelah dengan beras beserakan.

Dan mereka menunggu saat cacing-cacing naik ke atas. Setengah tenggelam.

Burung-burung mematuk dan menelan.

Pria-pria berdiri di beranda. Merokok.

Sekarang tahu mereka harus keluar ke sana. Mencari pekerjaan yang mungkin tidak ada. Menyalakan mobil yang mungkin tidak mau hidup.

Dan istri-istri yang dulu cantik berdiri di kamar mandi. Menyisir rambut. Merias wajah. Mencoba menyusun dunia kembali. Mencoba melupakan kesedihan mengerikan yang mencengkeram mereka. Bertanya-tanya apa yang akan mereka buat untuk sarapan.

Dan di radio kami diberitahu sekolah sekarang buka.

Dan segera aku sedang dalam perjalanan ke sekolah. Genangan besar di jalan. Dan matahari seperti dunia baru.

Orang tuaku di rumah.

Aku tiba di kelas tepat waktu.

Ibu Rose menyambut kami. Kita tidak akan rehat seperti biasa. Tanah terlalu basah.

Sebagian besar anak laki-laki mengeluh.

Tapi kita akan melakukan sesuatu spesial saat rehat, dia lanjutkan. Dan akan menyenangkan.

Kami semua bertanya-tanya apa itu.

Dan menunggu dua jam terasa lama saat Ibu Rose mengajar.

Aku melihat gadis-gadis kecil. Mereka semua tampak cantik dan bersih dan waspada. Mereka duduk diam dan tegak. Rambut mereka indah dalam sinar matahari khatulistiwa.

Lalu bel rehat berbunyi. Kami semua menunggu kesenangan.

Lalu Ibu Rose memberitahu kami. Sekarang apa yang akan kita lakukan adalah kita akan saling cerita apa yang kita lakukan selama badai hujan. Kita akan mulai dari baris depan dan berputar.

Sekarang, Firas. Kau duluan.

Kami semua mulai bercerita.

Firas mulai. Dan terus dan terus.

Segera kami sadar bahwa kami semua berbohong.

Tidak persis berbohong. Tapi kebanyakan berbohong.

Beberapa anak laki-laki mulai cekikikan. Dan beberapa gadis memberi mereka tatapan kotor.

Dan Ibu Rose bilang, Baiklah. Aku menuntut sedikit keheningan di sini. Aku tertarik dengan apa yang kalian lakukan selama badai hujan. Meski kalian tidak.

Jadi kami harus bercerita. Dan itu cerita.

Satu gadis bilang saat pelangi pertama datang dia melihat wajah Tuhan di ujungnya. Hanya dia tidak bilang ujung yang mana.

Satu anak laki-laki bilang dia menjulurkan pancingnya keluar jendela dan menangkap ikan kecil. Dan memberikannya ke kucingnya.

Hampir semua orang berbohong.

Kebenarannya terlalu mengerikan dan memalukan untuk diceritakan.

Lalu bel berbunyi. Rehat selesai.

Terima kasih, kata Ibu Rose. Itu sangat menyenangkan.

Dan besok tanah akan kering. Dan kita akan menggunakannya lagi.

Sebagian besar anak laki-laki bersorak.

Dan gadis-gadis kecil duduk sangat tegak dan diam. Tampak sangat cantik dan bersih dan waspada.

Rambut mereka indah dalam sinar matahari.

Dunia mungkin tidak pernah melihat lagi.


Oke.

Terima kasih.

Senang kau membaca itu.

Kau membacanya seperti kau menemukannya.

Ya.

Kau ingat.

Ya, aku membacanya seperti aku menemukannya.

🙏🙏🙏

Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh