
Ada fenomena aneh. Cowok-cowok yang terobsesi dengan penampilan sampai mirip perempuan. Mereka habiskan jam demi jam di depan cermin, menganalisis simetri wajah, mencari kekurangan yang harus diperbaiki.
Ini bukan soal menjaga diri. Ini obsesi.
Sejak perempuan pertama ada di muka bumi, perempuan memang peduli bagaimana pria melihat mereka secara fisik. Kenapa? Karena pria memprioritaskan kecantikan perempuan dulu, baru kemudian mencoba mengenal siapa dia, kepribadiannya seperti apa.
Perempuan kebalikannya.
Perempuan peduli siapa pria nya dulu. Apa pekerjaannya. Apa tujuannya. Baru tampangnya. Urutan itu tidak berubah sejak zaman nenek moyang kita.
Kamu salahnya menghabiskan waktu lebih banyak di depan cermin daripada ibumu. Dan kamu masih single karena tidak tahu bagaimana menjadi pria menyenangkan.
Kebanyakan pria sekarang melihat perempuan sebagai pemburu. Ya, benar. Di dunia looksmaxxer Indonesia, pria adalah mangsa yang lemah dan perempuan adalah predator penuh nafsu.
Perempuan keluar rumah berantakan, liar, lapar mencari Chad 185cm dengan rahang tajam, cash 10 miliar, dan rambut tanpa rontok sehelaipun. Looksmaxxer cuma bisa berharap dipungut salah satu pemburu lapar ini. Kalau saja dia cukup tampan.
Ini mindset perempuan yang memutuskan. Bukan pria.
Sebelum perempuan pergi kencan—kadang sebelum keluar rumah—mereka mencoba 10-20 outfit berbeda lalu menghabiskan 2-3 jam untuk rambut dan makeup. Supaya terlihat hot untuk kencannya, atau cowok ideal yang belum ditemuinya yang mungkin akan mendekatinya malam ini. Kalau saja dia cukup seksi.
Lihat perbedaannya? Perempuan mempersiapkan diri untuk menarik pria. Pria seharusnya mempersiapkan kepribadian untuk menarik perempuan.
Aku akan cerita satu kisah.
Dulu aku sering nongkrong di warung kopi. Peracik kopinya sudah tua, sebut saja Pak Toni, praktis menjalankan toko untuk pemiliknya. Toni seperti walikota. Dia tahu nama setiap pelanggan yang masuk, pesanan reguler mereka, nama anak-anak mereka. Dia akrab dengan setiap pejabat di kota.
Cewek-cewek menggodanya terang-terangan. Kadang beberapa cewek dari kelompok teman yang sama.
Toni juga tingginya 165cm, botak, dan sedikit obesitas. Minimal beratnya sekitar 100kg.
Toni gemuk tapi bukan jorok. Dia pakai baju yang pas—dalam kasusnya berarti dia tidak pakai kaos yang memeras lemaknya. Dia punya jenggot pendek, sedikit lebih dari kumis tipis, dan selalu rapi. Potong rambut setiap 2-3 minggu dan punya selera berpakaian yang bagus.
Toni menjaga dirinya dan memastikan dia terlihat presentable. Ini warung kopi jadi figur tempat wisata juga. Toni tidak pernah pakai topi dan bahkan kadang dia memakai setengah pakaian menunjukkan tatonya seperti kriminal Rusia. Dia tidak transplantasi rambut juga.
Dia tidak peduli.
Toni punya kehadiran yang commanding. Kamu tahu dia ada di ruangan. Dia keras dan bersemangat—ceria, tapi dengan vitalitas. Dia metatap matamu dan membuatmu merasa didengarkan saat kamu bicara padanya. Dia juga lucu dan membuat orang tertawa secepat mungkin. Dia sendiri punya tawa yang menggelegar.
Toni juga tahu cara membela dirinya. Kalau pelanggan bertingkah brengsek di warung kopi, dia tendang mereka keluar atau bahkan banned mereka di depan pelanggan lain sebagai contoh.
Toni punya nyali. Kekaguman dan misteri. Semua orang suka dia.
Kalau kamu lihat foto Toni di sosial media, dia akan diejek karena gemuk. Rata-rata looksmaxxer akan melakukan analisis simetri wajah dan menyatakan dia NGMI.
Yang mereka tidak tahu?
Pembuat kopi ini juga mempekerjakan beberapa pelayan seksi yang menarik perhatian Om Om. Sejak ngopi di sana, aku cepatan belajar bahwa dua pelayan seksi sedang berebut Toni. Para pelanggannya sibuk cari perhatian pelayannya.
Oh, dia juga punya pacar single mother sudah 4 tahun.
Apakah para pelayan peduli? Tidak. Mereka tetap ingin tidur dengan Toni.
Bisakah cewek gemuk melakukan ini? Tidak dalam sejuta tahun. Tidak mungkin. Tidak peduli seberapa menyenangkan dia. Ini kebenaran yang dingin dan keras tapi perbedaan krusial antara pria dan wanita yang banyak pria sudah lupa atau tidak pernah diajarkan.
Mungkin kedengarannya aku mengarang, tapi tidak. Aku tidak mengarang. Ada contoh lain yang bisa aku berikan, tapi aku pakai Toni sebagai contoh karena bahkan saat itu aku sadar apa yang cewek-cewek lihat dari dia.
Cewek-cewek hot berebut Toni karena Toni menyenangkan.
Tolong jangan terlalu literal. Looksmaxxing harus dilakukan dalam batas wajar. Kamu harus angkat beban apapun yang terjadi. Dan kalau ada bagian dari dirimu yang benar-benar tidak nyaman, kamu harus pertimbangkan untuk mengubahnya.
Tapi aku bicara tentang ekstrem.
Di kebanyakan kasus, pria tidak seharusnya menghabiskan terlalu banyak waktu khawatir tentang penampilan. Itu yang wanita lakukan.
Kamu bisa punya wajah paling tampan di dunia. Kalau kamu membosankan, kaku, atau tidak menarik, akhirnya game over untukmu. Wanita—wanita berkualitas tinggi—akhirnya akan bosan karena mereka akan sadar tidak banyak yang ada di bawah wajah yang kamu habiskan begitu banyak waktu untuk urus.
Kalau kamu menghabiskan terlalu banyak waktu khawatir tentang penampilan, kamu pada dasarnya Kim Kardashian dengan batang. Mungkin tidak ada yang menarik tentangmu dan kemungkinan besar kamu cukup dangkal. Kamu mungkin sangat insecure, dan kamu harus lebih sadar akan hal itu.
Kalau kamu tidak menyenangkan dan hidupmu tidak tertata maka tidak masalah berapa banyak looksmaxxing yang kamu lakukan.
Sampai kamu mengunci dua hal itu, berhenti lihat cermin dan mulai belajar bagaimana bersenang-senang.
Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh