Lima Tipe Suami Yang Hidup Dalam Kebohongan

Kuliah. Karir bagus. Nikah sama perempuan seumuran. Dua anak. KPR yang mencekik. Liburan dua minggu setahun ke Bali. Pensiun umur 60.

Kalau ini mimpimu, kamu sudah mati. Hanya saja belum dikubur.

Kamu hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Mengikuti jalur yang sudah digariskan massa. Bukan keinginanmu.

Mudah-mudahan kamu bukan bagian dari kelompok ini. Tapi kalau iya, perhatikan teman teman atau orang sekitar kamu yang sudah menikah. Mereka yang tunduk pada “jalur kehidupan” akan berbohong pada diri sendiri tentang pilihan mereka. Kebahagiaan palsu mereka bisa tercium dari sejauh satu kilometer.

Kita bongkar satu-satu.

1. Pacar Sejak Kuliah

Dia pacaran dengan perempuan yang sama dari umur 20 sampai 25. Lalu langsung nikah.

Tapi di kantor, dia punya katalog cerita tentang bagaimana dulu dia “bermain” dengan puluhan perempuan. Cerita-cerita yang tidak pernah terjadi.

Tipe ini lebih berbahaya daripada yang menghilang. Dia pasif-agresif. Diam-diam ingin melihatmu gagal.

Biasanya mereka mudah marah.

Cara mengenali dia: ketika hidupmu sedang sulit, entah soal pekerjaan atau hubungan, dia akan memberikan komentar sinis. Menyerang dengan cara halus.

Cara menghadapinya? Puji egonya. Bilang dia sudah membuat pilihan yang benar. Biarkan dia merasa menang. Jangan pernah membahas kehidupan pribadimu di depannya.

2. Hidup Melalui Orang Lain

Tipe ini butuh tahu segalanya tentang kehidupan pribadimu.

Kalau kamu liburan, dia minta foto perempuan-perempuan yang kamu temui. Kalau kamu dapat long weekend, dia akan mampir ke mejamu pagi-pagi, mengetuk kaca, dan menuntut detail.

Pola responsnya selalu sama:

Dia akan bercerita panjang lebar tentang bagaimana dulu dia tidur dengan X perempuan setiap bulan. Atau dia akan menjelaskan bagaimana dia akan tidur dengan X perempuan kalau dia di posisimu.

Tapi jangan khawatir. Dia “bahagia” dengan pernikahannya sekarang.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang terus-menerus membicarakan masa lalu seksualnya sedang melanggar prinsip ini. Dia tidak diam. Dan yang dia katakan jauh dari baik.

Ini bukan sekadar gosip. Ini costly signaling terbalik. Dia membuktikan nilai dengan membicarakan masa lalu, bukan membangun masa depan.

3. Tukang Menghilang

Kita semua kenal tipe ini.

Dia menyenangkan. Cukup sukses. Tapi langsung menghilang begitu masuk hubungan.

Catat polanya:

  1. Masuk hubungan
  2. Menghilang dari peredaran
  3. Diputusin
  4. Tiba-tiba menghubungimu untuk “nasihat hidup”
  5. Minta diperkenalkan ke teman-temanmu
  6. Masuk hubungan lagi
  7. Ulangi

Biasanya dia menikah sekitar umur 29, begitu merasa bisa menghasilkan gaji rata-rata untuk seumur hidup.

Sayangnya, dia adalah puncak dari “nice guy.” Tidak ada prenup. Tidak ada perlindungan.

Ketika surat cerai datang, dia akan menjadi bayangan dari pria yang dulu kamu kenal.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga berarti mempersiapkan segalanya. Termasuk aspek hukum dan finansial. Nice guy yang buta terhadap realitas bukanlah pelindung. Dia calon korban.

4. Menikah Dengan Yang “Sesuai”

Orang ini tidak bisa mendapatkan perempuan walau membawa sekarung uang ke penjara perempuan.

Tapi entah bagaimana, dia berhasil menikah.

Tandanya jelas: usia istrinya hampir sama dengannya. Atau lebih buruk, lebih tua.

Dia akan terus-menerus membanggakan bagaimana dia membuat “pilihan yang benar.” Perempuan-perempuan di sekitarnya akan mendukungnya karena:

  1. Dia menikah dengan perempuan “sesuai usia”
  2. Dia selalu bangga dengan istrinya di depan publik

Bagian terbaiknya? Dia akan mengklaim istrinya “cantik.” Kamu akan bertemu dengannya. Dan tentu saja, istrinya biasa-biasa saja.

Tipe ini paling menyebalkan karena terus-menerus divalidasi oleh orang-orang biasa dan perempuan-perempuan yang iri. Apalagi kalau punya akun sosial media. Siapkan headphone noise-cancelling, terutama sekitar bulan Februari.

Tunggu sepuluh tahun. Kamu akan melihat dia merangkak keluar dari perceraian yang menyedihkan.

5. “Kamu Orang Jahat”

Tipe ini paling defensif terhadap perempuan.

Dia “bahagia menikah” dengan total pengalaman seumur hidup di bawah sepuluh. Lebih mungkin satu atau dua.

Serangannya terhadapmu biasanya:

  1. “Tidak semua perempuan seperti itu” (diikuti dengan istrinya sebagai contoh)
  2. “Kamu pasti lagi marah di dalam” (mengabaikan fakta bahwa kamu tidak pernah mengkritik hidupnya)
  3. “Kamu cari perempuan di tempat yang salah”
  4. “Mau ibumu berpikir apa?” (asumsi kamu punya masalah dengan ibumu, padahal kamu terbuka dengan keluargamu)

Tipe “kamu orang jahat” kadang masih single. Tapi begitu dia “menang” dengan mengikuti jalur kehidupan, dia akan berteriak seperti anak sekolahan.

Ini bukan soal status pernikahan. Ini soal pola pikir.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang menghakimi hidupmu tanpa diminta tidak mencintaimu. Dia mencintai perasaan superior yang didapat dari menghakimimu.


Bonus: Suami Suami Takut Istri

Pria di kantor yang sepenuhnya dikuasai istrinya. Suaranya berubah, nada naik satu oktaf, keringat dingin di pelipis begitu nama istri muncul di layar HP.

Punya kemampuan sosial luar biasa. Tapi tidak pernah belajar cara memimpin dalam rumah tangganya sendiri.

Penutup

Perhatikan pria-pria menikah di kantormu. Lihat bagaimana mereka bertindak, bukan apa yang mereka katakan.

Kalau kamu terus mengamati dengan objektif, kamu akan cepat menyadari bahwa banyak pernikahan adalah pertunjukan. Fasad yang rapuh.

Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Pernikahan yang benar menghasilkan ketentraman. Kasih sayang. Bukan pertunjukan, kebohongan, dan kepahitan yang ditutupi senyuman palsu di media sosial.

Kalau kamu melihat pria yang terus-menerus membuktikan betapa bahagianya pernikahannya, tanyakan: kenapa dia perlu membuktikan?

Orang yang benar-benar bahagia tidak butuh validasi dari orang asing di internet.

Soal Anak

Pertanyaan klasik: bagaimana kalau mau punya anak?

Jawaban sederhana: pilih pasangan dengan sangat hati-hati. Bukan soal menghindari pernikahan. Soal memilih dengan bijak.

Begitu kamu memutuskan untuk menikah, itu investasi seumur hidup. Fokusnya bukan exit strategy. Fokusnya membuatnya berhasil sampai mati.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah umatku di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Pernikahan bukan musuh. Pernikahan yang buruk dengan orang yang salah adalah musuh.

Bedakan keduanya.

🙏🙏🙏

Thanks for reads, hope you enjoyed it, sharing this article on your favorite social media network would be highly appreciated 💖! Sawernya juga boleh