
Di tahun 350 SM, Aristoteles menulis di Politics Buku 7 bagian 1335a bahwa perempuan sebaiknya menikah di usia 18, dan laki-laki di usia 37. Dia bukan sedang berpendapat. Dia menyatakan sesuatu yang dianggapnya sudah jelas.
Untuk perempuan, pola berbeda. Perempuan usia 25 melaporkan bahwa pria yang lebih tua berusia 28-29 paling menarik. Di usia 30, angka itu bergeser ke 33-35. Selalu lebih tua. Selalu naik. Perbedaan usia ini bukan kebetulan, ini pola yang konsisten lintas budaya dan zaman.
Allah sudah menuliskan pola ini sejak lama.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisa: 34)
Perhatikan dua syarat qawwam dalam ayat itu. Pertama, kelebihan yang Allah berikan. Kedua, karena mereka menafkahkan harta. Kata kuncinya: menafkahkan. Bukan sekadar punya uang. Tapi sudah sampai di titik hidupnya di mana dia mampu memberi, mampu menjadi sumber rasa aman bagi pasangannya.
Cowok umur 22 yang masih nebeng motor orangtua belum memenuhi syarat kedua itu. Dan perempuan, secara naluriah, tahu.
Menurut Brookings Institute, 63 persen pria muda usia 18-29 tahun di Amerika berstatus single. Hampir dua kali lipat dari perempuan di kelompok umur yang sama.
Pertanyaan bodohnya: kalau perempuan usia 20-an berpacaran, tapi bukan dengan pria seumuran, mereka berpacaran dengan siapa?
Dua kemungkinan. Mereka berbagi pria berkualitas tinggi di kelompok umur yang sama, segelintir yang sudah menonjol. Atau mereka bersama pria lebih tua, 30 tahun ke atas. Data pernikahan mendukung opsi kedua, karena rata-rata usia pernikahan pertama sekarang 25 tahun untuk perempuan dan 27 tahun untuk pria.
Perempuan muda sudah memasang harga diri mereka di atas kemampuan beli pria seumurannya.
Ini kalimat yang paling sering disalahpahami: pria harus menjadi, perempuan tinggal ada. Bukan berarti perempuan tidak perlu usaha. Tapi kriteria yang membuat pria bernilai tinggi di pasar seksual jauh lebih berat, lebih lama, dan lebih menyakitkan untuk dibangun.
Perempuan punya daftar 436 poin untuk menyetujui seorang pria: fisik prima, humoris, dermawan, kaya, berstatus tinggi, dihormati, dominan, cerdas, ambisius, baik, berorientasi keluarga, setia, suka anjing, sayang ibunya, mau punya anak. Daftar pria? Dua item. Cantik dan tersedia. Selesai.
Setiap item di daftar perempuan itu butuh waktu untuk dibangun. Status tidak jatuh dari langit. Stabilitas finansial tidak datang di usia 24. Penghormatan orang lain tidak bisa dipalsukan. Kematangan emosional dan kedalaman pengalaman hidup tidak bisa dipercepat.
Maka puncak nilai seorang pria baru tercapai di sekitar usia 36-37. Ketika otot sudah dibangun bertahun-tahun. Ketika karier sudah menghasilkan buah. Ketika kematangan sudah teruji oleh kegagalan demi kegagalan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi)
Menjadi sebaik-baik suami bukan urusan usia biologis. Ini urusan kematangan jiwa, kedalaman pengalaman, dan kapasitas memberi yang hanya datang setelah seorang pria sudah dihajar hidup bertahun-tahun lalu bangun lagi.
Kritikus selalu bilang: “Lo mau bilang cowok 37 tahun lebih seksi dari cowok 26?!”
Kalau satu-satunya ukuran adalah otot dan rahang, ya, cowok 26 menang. Tapi bukan itu cara perempuan menilai. Psikologi evolusioner sudah menjelaskan ini berulang kali.
Ada bedanya antara arousal dan attraction. Arousal adalah reaksi fisik, gairah mentah. Attraction adalah keseluruhan paket. Status. Kekayaan. Kecerdasan sosial. Humor. Bakat. Pengalaman hidup yang dalam. Seorang pria yang lebih tua dan sudah “jadi” selalu terlihat sebagai taruhan yang lebih aman untuk kebutuhan jangka panjang perempuan, karena dia sudah membuktikan kemampuannya memberikan rasa aman dan komitmen nyata.
Kalau satu-satunya metrik SMV (sexual market value) adalah tinggi 185 cm, perut sixpack, dan ukuran di bawah sana, maka para pengkritik benar.
Tapi mereka tidak benar.
Data menunjukkan minimal dua kali lebih banyak perempuan muda di usia 20-an memilih hubungan serius dengan pria 30 ke atas. Ada kualitas attraction yang dimiliki pria lebih tua yang belum sempat dikembangkan oleh pria muda. Kedalaman, ketenangan, kepercayaan diri yang alami, kejelasan arah hidup.
Islam sendiri menekankan bahwa memilih pasangan bukan soal tampang semata:
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini ditujukan kepada laki-laki saat memilih perempuan. Tapi prinsipnya berlaku dua arah. Perempuan yang cerdas juga menilai seorang pria dari lebih dari sekadar tampilan luar. Mereka menilai karakter, agama, kemampuan menafkahi, dan kematangan emosional. Semua hal yang membutuhkan waktu untuk dibangun.
Ini senjata malu-maluin favorit orang masa kini. Terutama di media sosial.
Seorang pria 40-an yang bugar, sukses, dan dikelilingi perempuan muda akan selalu kena serangan ini. “Ngapain sih masih gaya-gayaan? Harusnya udah duduk tenang main sama cucu.” Serangan ini datang dari dua arah: dari pria muda yang iri, dan dari perempuan tua yang kesal melihat kompetisi mereka diperluas.
Tapi coba pikir kenapa serangan ini ada.
Kalau pria yang lebih tua benar-benar tidak menarik bagi perempuan muda, tidak perlu ada konsep Future Mate Guarding, upaya proaktif untuk mendiskualifikasi saingan seksual lewat rasa malu. Fakta bahwa serangan komentar “bertindaklah sesuai umurmu” begitu populer justru membuktikan bahwa pria-pria ini memang ancaman nyata.
Tidak ada yang merasa perlu memagar padang rumput yang tidak subur.
Kita hidup di era di mana batasan generasi sudah ambruk. Media sosial menghancurkan sekat antara Gen X, Millennials, dan Gen Z. Pria Gen X berusia 50-an, yang sudah hampir menyelesaikan seluruh “paket total” mereka, sekarang ada di feed Instagram yang sama dengan perempuan Gen Z berusia 20-an.
Media sosial yang awalnya menghapus batasan generasi, sekarang justru memfasilitasi daya tarik pria yang lebih tua terhadap perempuan muda. Perempuan tua yang mencoba mempermalukan pria yang berkencan dengan perempuan lebih muda sedang memakai taktik abad ke-20 di abad ke-21.
Tidak relevan lagi.
Perempuan secara naluriah memahami bahwa pria butuh waktu lebih lama untuk mencapai potensi puncaknya. Al-Quran menegaskan peran ini dengan konsep qawwam, penanggung jawab yang mampu menafkahi dan melindungi, yang mampu memberikan rasa aman lahir dan batin. Hadits-hadits memperkuat bahwa kualitas seorang pria diukur dari karakter dan kemampuannya terhadap keluarga, bukan dari usia biologisnya.
Maka ini bukan tentang pria tua “merebut” perempuan muda. Ini tentang pria yang sudah menjadi sesuatu versus pria yang masih dalam proses.
63 persen pria muda 18-29 itu single bukan karena perempuan jahat. Tapi karena mayoritas dari mereka belum menjadi apa-apa. Mereka mati rasa di depan layar, tenggelam dalam hiburan, tidak punya arah, tidak punya keringat yang cukup di CV kehidupan mereka.
Pria yang sudah jadi membawa pengalaman, Frame yang kokoh, dan arah hidup yang jelas, sesuatu yang akan dipilih perempuan muda di atas mayoritas pria seumurannya yang membius diri mereka sendiri ke dalam kesendirian tanpa seks.
Rasulullah menikahi Khadijah yang 15 tahun lebih tua. Beliau juga menikahi Aisyah yang jauh lebih muda. Yang konstan bukan umur. Yang konstan adalah kapasitas Beliau sebagai pria yang sudah utuh, pemimpin, pelindung, penyedia.
Perempuan lebih memilih berbagi pria Alpha yang sukses daripada terikat seumur hidup dengan Beta yang setia tapi tidak berkembang.
Kalimat terakhir itu menyakitkan. Seharusnya memang menyakitkan.
Karena kalau kamu pria dan kamu baca ini sambil tersinggung, pertanyaannya bukan bagaimana caranya membungkam kenyataan ini. Pertanyaannya adalah: kapan kamu mulai membangun dirimu?
Umurmu tidak menentukan nilaimu.
Apa yang sudah kamu bangun, itulah yang menentukan.
Terima kasih sudah membacanya, semoga bermanfaat, sharing artikel ini di media sosial favoritmu akan sangat membantu! Butuh supportnya agar website ini tetap hidup
Atau kamu bisa langsung transfer ke rekeningku:
0081 6828 8714
Bank BLU by BCA DIGITAL (kode bank: 501)
atas nama FIRAS XXXISLAM