Berhadapan dengan Sedasi

Aku sering banget dapet pesan soal “Alpha Mindset.” Tapi sebelum kita masuk ke situ, ada satu hal yang harus kamu hadapi dulu.

Sedasi.

Kebiasaan buruk, kecanduan, dan pola pikir yang bikin kamu stagnan. Yang bikin kamu nggak pernah gerak dari kasur. Yang bikin kamu baca 50 buku tapi nggak pernah berubah satu milimeter pun.

Kamu bisa baca semua buku rekomendasi para Influencer. Kamu bisa nonton setiap podcast yang pernah ada. Kamu bisa berdoa sepanjang hari kayak yang disuruh influencer favorit kamu. Nggak ada yang bakal berubah. Selama kamu masih tenggelam dalam sedasi, semua itu cuma hiburan. Bukan transformasi. Bukan pengembangan diri.

Apa itu sedasi? Kebiasaan buruk yang pelan-pelan membunuh kamu

Sedasi itu apapun yang bikin kamu nggak bisa hidup di level terbaik kamu.

Alkohol. Ini pelarian paling diterima secara sosial di planet ini. Kamu nggak harus punya catatan mabuk di jalan atau dateng ke meeting AA buat disebut tergantung alkohol. Aku kerja di industri wine and spirits selama 17 tahun. Aku lihat sendiri, orang biasa, bukan pecandu, karier mereka mati pelan-pelan karena kecanduan alkohol lebih dari faktor lain manapun.

Makanan. Kebiasaan makan kamu terbentuk sejak kecil. Orang tua yang doyan makan berlebihan biasanya nurunin pola yang sama ke anak-anaknya. Ditambah sekarang kamu bisa pesan rendang padang jam 2 pagi lewat GoFood. Di zaman nenek moyang kita, makan itu butuh usaha. Sekarang makan itu sedasi yang kamu nggak sadar.

Sedasi juga memakan waktu generasi muda kita.

Kecanduan pornografi. Video game. Serial Netflix yang kamu tonton sampai jam 3 pagi. Semua ini dalam dosis kecil mungkin nggak masalah. Tapi dalam kebiasaan? Jadi benteng emosional buat laki-laki yang nggak tahan sama hidup nyatanya.

Kita bikin semua pelarian ini terlalu mudah diakses, terlalu nyaman, terlalu instan. Sesuatu yang awalnya “sekali-sekali” gampang banget bergeser jadi sedasi permanen. Karena lama-lama, hidup pelarian kamu terasa lebih enak dari hidup asli kamu.

Porn dan video game contoh paling nyata. Kamu bisa jadi raja di Summoner’s Rift tapi nggak bisa ngobrol 5 menit sama cewek di coffee shop. Indonesia sendiri pernah masuk peringkat 4 dunia buat pencarian konten seks di Google. Bukan statistik yang bikin bangga.

Kecanduan bikin kebal terhadap perubahan

Aku nggak bisa dorong kamu pergi ke gym. Nggak ada coach, buku, atau podcast yang bisa ngangkat pantat kamu dari kasur. Selama kamu masih mati rasa, kamu cuma penonton.

Ada juga sedasi yang bukan berupa kebiasaan. Tapi pola pikir.

Letargi. Rasa hopeless yang bikin kamu nggak mau ngapa-ngapain. Mindset yang bilang: “Ngapain aku cape-cape? Emang bakal berubah?”

Kamu merasionalisasi kemalasan kamu dengan meyakinkan diri sendiri bahwa hasilnya nggak sebanding sama usahanya. Itu sedasi level mental. Dan itu sama mematikannya dengan kecanduan fisik.

Live time vs dead time: cara pakai waktu luang kamu

Robert Greene punya konsep ini di 48 Laws of Power. Bagi hidup kamu jadi dua:

Dead time. Waktu yang kamu harus jalani. Kerja 9 jam. Komuter 1 jam. Ngurusin keluarga. Kamu nggak bisa ngapa-ngapain selain itu di waktu-waktu tersebut.

Live time. Waktu sisa. Mungkin 1 jam. Mungkin 2 jam. Itu satu-satunya jendela yang kamu punya buat membangun diri kamu jadi orang lain.

Sekarang pertanyaannya: apa yang kamu lakuin di live time kamu?

Kebanyakan laki-laki pakai waktu itu buat coli, main Mobile Legends, minum bir, atau scroll TikTok sampai mata perih. Mereka bilang mereka butuh “dekompresi.” Butuh “me time.” Butuh relax setelah hari yang berat.

Tahu kenapa kamu nggak pernah ke olahraga pagi-pagi? Ini alasannya.

Kamu nggak kehabisan waktu. Kamu membuang waktu yang ada buat sedasi. Dan kamu menormalisasikannya sebagai self-care.

Olahraga itu live time. Kalau kamu pakai satu jam itu buat latihan, setidaknya kamu membangun sesuatu. Tapi kalau kamu habiskan buat League of Legends dan Pornografi? Kamu cuma makin tenggelam dalam kecanduan yang sama.

Mindset bukan pil ajaib buat pengembangan diri

Laki-laki yang baru masuk Red Pill nganggep Alpha Mindset kayak cheatcode. Satu klik, langsung jadi James Bond instan. Konsep “mindset” itu sengaja dibuat ambigu biar kamu yang lagi desperate bisa percaya kayak agama.

“Kamu cuma butuh mindset positif, bro. Semua bakal jatuh di tempatnya.”

Bullshit.

Nggak ada yang terjadi kalau kamu masih tenggelam dalam sedasi. Sadar diri itu susah. Apalagi kalau fokusnya ke kebiasaan buruk yang kamu pakai buat kabur dari kenyataan.

Apa yang nahan kamu? Apa yang kamu coba hindari dengan sedasi-sedasi ini? Apa hal yang kamu takutin sampai kamu pilih mati rasa daripada menghadapinya?

Kamu nggak akan pernah berubah selama kamu masih terlalu nyaman di dalam tidur kamu.

Bangun. Atau tetap di situ selamanya.

🙏🙏🙏

Terima kasih sudah membacanya, semoga bermanfaat, sharing artikel ini di media sosial favoritmu akan sangat membantu! Butuh supportnya agar website ini tetap hidup

Atau kamu bisa langsung transfer ke rekeningku:
0081 6828 8714
Bank BLU by BCA DIGITAL (kode bank: 501)
atas nama FIRAS XXXISLAM